Bercermin: Sering-seringlah Bercermin Agar Tahu Siapa Diri Yang Sesungguhnya

Bercermin: Sering-seringlah Bercermin Agar Tahu Siapa Diri Yang Sesungguhnya
Oleh: Abdul Manan
Pernahkah sejenak kita berhenti dari riuhnya dunia hanya untuk menatap wajah di depan cermin. Bukan hanya untuk bersisir atau merapikan kerah baju, melainkan untuk menatap tajam ke dalam mata sendiri lalu bertanya. “Siapakah sesungguhnya orang yang sedang aku tatap ini. Apakah ia benar-benar hamba yang rendah hati, keras hati ataukah ia hanya aktor yang pandai bersandiwara di hadapan manusia”
Kita sering kali terjebak menjadi buta terhadap busuknya hati sendiri. Mahir menjadi hakim bagi kesalahan sesama, namun menjadi pengacara yang sangat lihai dalam membela keburukan pribadi. Itulah ego, tirai tebal yang membuat kita merasa seperti raja hutan yang kuat bagai raksasa, padahal di hadapan takdir, kita hanyalah debu yang berterbangan menunggu waktu untuk dipulangkan.
Iri dan Dengki: Racun yang Membakar Kebaikan.
Salah satu alasan mengapa mata kita begitu tajam melihat kekurangan orang lain adalah karena adanya penyakit Iri dan Dengki di dalam dada. Hati yang sakit akan merasa sesak saat melihat orang lain bahagia, dan merasa sempit saat melihat sesama mendapatkan nikmat. Iri hati adalah racun yang paling cepat merusak amal, karena ia membuat kita mempertanyakan ketetapan Allah atas rezeki dan kemampuan orang lain.
Rasulullah SAW telah mengingatkan kita dengan sangat keras:
“Waspadalah kalian terhadap sifat hasad (iri dengki), karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Daud)
Iri hati muncul karena kita berhenti “bercermin”. Terlalu sibuk melihat ke atas hingga leher kita kaku dan hati membatu. Penyakit ini harus dilawan dengan paksa, lawanlah dengan mendoakan kebaikan bagi orang yang kita iringi, dan lawanlah dengan menyadari bahwa rezeki Allah tidak akan pernah tertukar.
Diam adalah Emas: Bukan Karena Lemah, Tapi Karena Bijaksana.
Di dunia yang penuh dengan kegaduhan ini, banyak orang berebut untuk bicara hanya agar terlihat hebat. Padahal, sering kali Diam adalah Emas. Diam bukanlah kelemahan ataupun bentuk kekalahan, bukan pula tanda ketidaktahuan. Namun Diam adalah sebuah pilihan sadar untuk menjaga kehormatan diri dan orang lain. Seseorang yang memilih diam sering kali sedang berperang dengan egonya untuk tidak menyakiti. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim)
Diamnya seseorang adalah cara ia memberikan ruang bagi hatinya untuk berpikir (Tafakkur). Jangan pernah menganggap orang yang diam itu buruk, karena bisa jadi di dalam diamnya, ia sedang berbisik dengan Tuhannya, memohon ampun atas segala khilaf yang tak sengaja ia perbuat.
Rasa Malu: Rem Pengendali di Tengah Arus Keburukan.
Sering kali kita melihat orang yang tenang lalu menganggapnya penakut. Padahal, itulah Malu yang sesungguhnya. Malu bukanlah sifat pengecut, melainkan “rem” pakem pengendali yang luar biasa. Ibarat kendaraan tanpa rem akan hancur menabrak dan tergelincir ke jurang, begitu pula manusia tanpa rasa malu akan hancur menabrak larangan-larangan Tuhannya.
Rasa malu adalah benteng terakhir yang mencegah diri dari lisan yang tajam dan sikap yang angkuh. Ia adalah pengendali agar tidak melakukan keburukan meski ada kesempatan. Rasulullah SAW menegaskan:
“Malu itu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari & Muslim)
Kematian: Cermin Kejujuran bagi Sang Petualang.
Mengapa hati kita sering mengeras, karena kita lupa akan satu kepastian yaitu Kematian. Kita sering kali baru tersentuh dan tersadar ketika saat melihat jenazah diusung, namun begitu debu pemakaman hilang dari pakaian, kita kembali sombong seolah nyawa ini abadi.
Ingatlah firman Allah SWT:
كُلُّنَفْسٍذَاۤىِٕقَةُالْمَوْتِۗ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Kematian adalah cermin paling jujur, di hadapan maut, tidak ada lagi ego, tidak ada lagi iri dan dengki. Yang tersisa hanyalah amal dan ketulusan hati. Sering-seringlah mengingat mati, karena ia adalah obat paling mujarab untuk meluluhkan hati yang beku dan mengeras.
Mutiara Hikmah Penggugah Qalbu.
“Iri hati adalah pengakuan atas kelemahan diri sendiri. Jangan biarkan hatimu terbakar oleh api yang kamu nyalakan sendiri karena melihat keberhasilan orang lain.”
“Diammu adalah pelindungmu. Lidah yang tak bertulang bisa menghancurkan bangunan persaudaraan yang dibangun puluhan tahun hanya dalam hitungan detik.”
“Malu adalah perhiasan jiwa. Tanpanya, manusia hanyalah raga yang kehilangan arah, berjalan tanpa malu berbuat dosa, dan berlari tanpa malu menyakiti sesama.”
“Bercerminlah pada kematian. Sebab di dalam liang lahat, gelar, jabatan, dan harta yang kau sombongkan tidak akan mampu menemanimu menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir.”
Penutup
Mari kita tundukkan ego sejenak, rendahkan hati sedalam-dalamnya. Perbanyaklah istighfar agar karat-karat kesombongan dan noda iri hati luntur dari dinding qolbu. Selalulah ber-Husnudzon, karena setiap jiwa punya rahasia dan setiap hati punya luka yang tidak kita ketahui.
Jadilah pribadi yang tenang, yang lebih banyak melihat ke dalam diri daripada memelototi kekurangan orang lain. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wata’ala dan diwafatkan dalam keadaan Husnul Khotimah. Aamiin. (*)

One thought on “Bercermin: Sering-seringlah Bercermin Agar Tahu Siapa Diri Yang Sesungguhnya”