NTB dalam Daftar Provinsi Termiskin: Saatnya  Kejujuran, Keberanian, dan Perubahan Mentalitas

 

NTB dalam Daftar Provinsi Termiskin: Saatnya  Kejujuran, Keberanian, dan Perubahan Mentalitas

Oleh :  Coach Kaffa *

Beberapa hari terakhir publik di Nusa Tenggara Barat kembali dihadapkan pada sebuah kenyataan yang tidak nyaman: NTB masuk dalam daftar 12 provinsi termiskin di Indonesia https://www.flashlombok.com/2026/03/04/ntb-masuk-daftar-12-provinsi-termiskin-di-indonesia/

Berita ini tentu bukan sekadar angka statistik. Di baliknya ada kehidupan nyata—rumah tangga yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, anak-anak yang terancam masa depannya, dan keluarga yang setiap hari berjuang keras untuk bertahan.

Sebagai bagian dari masyarakat NTB, kabar ini tidak bisa hanya dibaca lalu dilupakan. Ia harus menjadi cermin kejujuran kolektif. Cermin yang memaksa kita bertanya: mengapa kondisi ini masih terjadi, dan apa yang harus benar-benar diubah? Lebih dari sekadar keprihatinan, kondisi ini harus melahirkan komitmen kuat untuk pembenahan serius dari akar hingga tuntas.

Kemiskinan Adalah Alasan Negara Hadir

Konstitusi negara kita dengan tegas menyebutkan bahwa salah satu tujuan bernegara adalah memajukan kesejahteraan umum. Artinya, mengatasi kemiskinan bukan sekadar program kerja, melainkan alasan mendasar negara dan pemerintah ada. Dalam konteks daerah, tugas besar ini berada di pundak Pemerintah Provinsi NTB beserta seluruh jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), mulai dari sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan, pertanian, hingga infrastruktur dan pelayanan sosial.

Karena itu, jika kemiskinan masih menjadi realitas yang kuat, kita tidak boleh hanya sibuk mencari pembenaran. Harus ada keberanian untuk melakukan evaluasi yang jujur dan mendalam. Bukan sekadar menambah program. Bukan sekadar memperbanyak rapat. Tetapi mengubah cara berpikir dan cara bekerja.

Masalah Utamanya: Mentalitas dan Kultur Birokrasi

Kita harus jujur mengakui satu hal penting: banyak persoalan pembangunan daerah bukan semata-mata karena kurangnya anggaran atau program, tetapi karena mentalitas birokrasi yang belum sepenuhnya berubah. Kemiskinan tidak akan pernah selesai jika birokrasi masih: bekerja sekadar rutinitas, fokus pada administrasi, bukan hasil, takut mengambil keputusan, lebih sibuk menjaga kenyamanan jabatan daripada menciptakan perubahan. Yang dibutuhkan bukan hanya kebijakan baru, tetapi transformasi cara berpikir aparatur pemerintah daerah.

Perubahan itu harus dimulai dari: ✓mentalitas ✓pola pikir ✓sikap ✓etos kerja ✓kultur pelayanan kepada rakyat. Kita harus mengingat kembali satu prinsip sederhana tetapi mendasar: Rakyat adalah owner dari negara. Aparatur pemerintah adalah pelayan. Bukan sebaliknya. Jika kultur ini benar-benar mengental dalam setiap OPD, maka kebijakan tidak lagi dibuat sekadar untuk memenuhi prosedur, tetapi untuk benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Leadership dan Entrepreneurial Mindset: Syarat Mutlak

Untuk mengatasi kemiskinan secara serius, NTB membutuhkan lebih dari sekadar manajemen pemerintahan biasa. Kita membutuhkan Leadership & Entrepreneurial Mindset Excellence Mainstreaming. Artinya, kepemimpinan daerah dan seluruh jajaran birokrasi harus memiliki: keberanian mengambil keputusan, orientasi pada hasil nyata, kemampuan melihat peluang ekonomi, keberanian berinovasi, dan ketegasan mengeksekusi program.

Birokrasi tidak boleh lagi berjalan seperti mesin administratif yang lambat. Ia harus menjadi mesin penggerak kesejahteraan masyarakat. Pemimpin daerah harus berani menuntut standar kinerja yang tinggi. OPD harus bergerak dengan semangat kewirausahaan publik: mencari solusi, menciptakan peluang ekonomi, dan mengakselerasi kesejahteraan rakyat.

Peran Sentral Gubernur: Dirigent Orkestra Perubahan

Dalam transformasi besar seperti ini, peran gubernur menjadi sangat menentukan. Gubernur harus berani menjadi dirigent orkestra perubahan. Seorang pemimpin yang mampu: menyatukan visi seluruh OPD, memastikan setiap sektor bergerak ke arah yang sama, menghilangkan ego sektoral, dan menuntut kinerja yang terukur.

Dalam proses perubahan seperti ini, Gubernur tidak boleh terlalu banyak dibebani pertimbangan politis. Karena sejatinya, kebijakan yang baik dan perubahan yang nyata akan otomatis berdampak positif secara politik. Masyarakat selalu mampu membedakan antara pemimpin yang benar-benar bekerja dan yang sekadar tampil di permukaan. Keberanian untuk melakukan pembenahan struktural justru akan memperkuat kepercayaan publik.

Saatnya Berpikir dari Akar Masalah

Mengentaskan kemiskinan tidak bisa dilakukan dengan pendekatan parsial. Ia harus dilihat secara holistik, mulai dari: pendidikan yang relevan dengan kebutuhan ekonomi, penguatan sektor pertanian dan perikanan, pengembangan UMKM, ekosistem investasi daerah, hingga peningkatan kualitas SDM aparatur. Semua sektor harus bergerak serempak. Karena kemiskinan bukan masalah tunggal. Ia adalah hasil dari berbagai sistem yang belum bekerja optimal. Karena itu, solusinya pun harus sistemik.

Optimisme untuk Masa Depan NTB

Meskipun tantangan yang dihadapi tidak ringan, kita tidak boleh kehilangan optimisme. NTB memiliki potensi besar: sumber daya alam yang melimpah, sektor pariwisata kelas dunia, masyarakat yang pekerja keras, serta generasi muda yang penuh energi dan kreativitas. Jika potensi ini dikelola dengan kepemimpinan yang kuat dan birokrasi yang bermental pelayanan, NTB bukan hanya bisa keluar dari daftar provinsi termiskin, tetapi juga menjadi salah satu daerah yang maju di Indonesia. Perubahan itu bukan mustahil. Tetapi ia membutuhkan kejujuran, keberanian, dan kesungguhan bersama.

Sebuah Komitmen untuk Terlibat

Perubahan besar tidak bisa dilakukan sendirian. Ia membutuhkan keterlibatan banyak pihak—pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat luas.

Sebagai bagian dari masyarakat yang mencintai daerah ini, saya menyatakan kesiapan untuk membantu, memberikan pendampingan, dan membersamai seluruh rangkaian proses perubahan yang dibutuhkan. Karena kita tidak ingin kehidupan masyarakat NTB berjalan begini-begini saja. Kita ingin melihat perubahan nyata. Kita ingin melihat masyarakat hidup lebih sejahtera.

Dan pada akhirnya, kita ingin memastikan bahwa apa yang kita lakukan hari ini menjadi amal terbaik yang membawa kita kepada kebaikan yang lebih besar. Karena hidup bukan hanya tentang hari ini. Tetapi juga tentang pertanggungjawaban kita di hadapan Allâh, dan kita ingin masuk surga.

*) Aldo el-Haz Kaffa , CEO Kaffa Business Coach

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *