BoP Trump, Palestina, dan Penyalahgunaan Perjanjian Hudaibiyah

BoP Trump, Palestina, dan Penyalahgunaan Perjanjian Hudaibiyah
Oleh: Aldo el-Haz Kaffa
Kekejian Israel dan Amerika Serikat terhadap rakyat Palestina sesungguhnya telah berlangsung terlalu lama untuk terus disangkal. Pembantaian, pengusiran, perampasan tanah, hingga penghancuran fasilitas sipil terjadi berulang kali, disiarkan secara terbuka, dan disaksikan dunia. Namun anehnya, bagi sebagian pihak, semua itu masih dianggap belum cukup bukti.
Sejarah mencatat, sejak runtuhnya Kekhilafahan Islam pada tahun 1924, kaum Muslimin kehilangan pelindung politik global. Sejak saat itu pula, umat Islam tidak lagi memiliki perisai kolektif yang mampu mencegah agresi, menindak penjajah, dan melindungi wilayah-wilayah Muslim. Palestina adalah korban paling nyata dari kekosongan tersebut.
Derita Palestina tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia lahir dari tiga sebab utama.
PERTAMA, runtuhnya Kekhilafahan Islam yang selama berabad-abad menjadi pelindung wilayah-wilayah Muslim.
KEDUA, dukungan Inggris yang dilanjutkan Amerika Serikat—melalui PBB—yang secara resmi memfasilitasi berdirinya entitas zionis Israel pada 1948 di atas tanah Palestina.
KETIGA, kegagalan dan pengkhianatan dunia Islam sendiri, yang membiarkan Palestina sendirian menghadapi penjajahan.
Tanpa ketiga faktor ini, mustahil tragedi kemanusiaan Palestina berlangsung selama lebih dari tujuh dekade.
Pasca runtuhnya Khilafah, dunia dikuasai ideologi materialisme. Kapitalisme global yang dipimpin Amerika Serikat menjadikan perang, instabilitas, dan konflik sebagai instrumen penjajahan modern. Seluruh narasi perdamaian, demokrasi, dan HAM kerap hanya menjadi legitimasi untuk menguasai sumber daya dan wilayah strategis.
Dalam konteks inilah Donald Trump membentuk apa yang disebut Board of Peace (BoP). Secara retoris, BoP diklaim sebagai instrumen perdamaian dan jalan keluar konflik Palestina. Namun secara substansial, arah kebijakan ini justru menguntungkan Israel.
Tujuan BoP Trump dapat dibaca secara terang:
PERTAMA, melegitimasi Two State Solution yang pada praktiknya mengukuhkan penjajahan Israel. KEDUA, membuka jalan bagi penghapusan Palestina dari peta politik dunia. KETIGA, memindahkan rakyat Palestina ke negara-negara lain, menjadikan mereka pengungsi permanen di luar tanah airnya sendiri.
Masalah menjadi serius ketika Indonesia turut bergabung dalam BoP tersebut. Keputusan ini bukan hanya problematik secara politik luar negeri, tetapi juga bermasalah secara moral dan konstitusional, mengingat sikap resmi Indonesia yang menolak penjajahan dalam bentuk apa pun.
Yang lebih memprihatinkan, sebagian pihak mencoba membenarkan keputusan tersebut dengan mengutip Perjanjian Hudaibiyah, seolah-olah keterlibatan Indonesia dalam BoP Trump merupakan bentuk keteladanan terhadap Rasulullah shalallahu alayhi wasallam.
Analogi ini keliru dan berbahaya.
PERTAMA, Perjanjian Hudaibiyah adalah wahyu. Rasulullah shalallahu alayhi wasallam menandatanganinya atas perintah Allah ta’ala, bukan hasil kompromi politik dengan kekuatan zhalim.
KEDUA, Rasulullah shalallahu alayhi wasallam bertindak sebagai kepala negara yang berdaulat, bukan sebagai pihak yang tunduk pada desain politik musuh.
KETIGA, Hudaibiyah memiliki target strategis yang jelas: pembebasan Makkah. Ketika perjanjian dilanggar, Rasulullah shalallahu alayhi wasallam bertindak tegas.
Sementara dalam konteks Israel, pelanggaran gencatan senjata terus terjadi tanpa sanksi apa pun. Amerika Serikat tidak menghukum Israel karena pada hakikatnya Amerika adalah pelindung utama agresi tersebut.
Dalam situasi ini, menyamakan BoP Trump dengan Perjanjian Hudaibiyah bukan hanya kesalahan akademik, tetapi juga distorsi moral dan pengkhianatan terhadap sejarah Islam.
Perdamaian yang sejati tidak lahir dari legitimasi penjajahan. Dan teladan Nabi tidak pernah digunakan untuk membenarkan kezhaliman. Sudah saatnya umat Islam—termasuk Indonesia—bersikap jujur, tegas, dan berani dalam membela Palestina, tanpa memelintir dalil dan tanpa tunduk pada tekanan kekuatan global.
Karena pada akhirnya, dunia dan seluruh isinya tidak lebih berharga dari sayap seekor lalat. Dan akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya.
Coach Kaffa – Aldo el-Haz Kaffa, CEO Kaffa Business Coach: The Business School for Leadership & Entrepreneurial Mindset Excellence
