Benarkah Doa Itu Tanda Cinta?

Benarkah Doa Itu Tanda Cinta?
Oleh : Coach Kaffa
Ada cinta yang tak terucap, tak tertulis di kertas, tak terpahat di dinding waktu. Ia hidup di antara helaan napas dan hening sujud. Ia tidak memanggil nama dengan suara, melainkan dengan getar jiwa yang menembus langit. Itulah cinta yang menjelma doa.
Bila dunia tahu cara memeluk dengan tangan, maka para pecinta yang mengenal Allah memeluk lewat doa. Dalam tiap “Ya Allah” ada rindu yang diserahkan, ada cinta yang dilunakkan oleh keikhlasan. Sebab cinta yang diserahkan kepada Allah tak lagi meminta untuk dimiliki — ia hanya berharap untuk diridhoi.
Doa adalah bahasa cinta yang paling suci. Ia tak memaksa, tak menuntut, tak mengikat. Ia hanya menitipkan seseorang kepada Pemiliknya. Dan sungguh, siapa pun yang menitipkan cinta kepada Allah, tak akan pernah kehilangan, meski seluruh dunia menjauh darinya.
Kadang, manusia mencintai dengan suara, dengan tatapan, dengan sentuhan. Namun para jiwa yang telah ditempa rindu dan waktu mengerti bahwa cinta sejati justru hadir dalam diam. Dalam kelam malam ketika dunia tertidur, ada satu wajah yang tak disebut, tapi dipersembahkan seluruhnya kepada Allah.
Cinta itu tidak meminta dibalas, karena ia telah menemukan arah pulangnya. Ia tidak lagi mengharap genggaman tangan, karena ia telah digenggam oleh keyakinan: bahwa Allah-lah yang Maha Menjaga.
Cinta yang sejati akan tiba pada tahap pasrah — bukan karena menyerah, tapi karena tahu, bahwa mencintai makhluk adalah jalan menuju Sang Khalik. Dan doa adalah jembatan yang menghubungkan keduanya.
Setiap kali seseorang menyebut nama yang dicintai dalam doa, sesungguhnya ia sedang menulis surat kepada Allah: “Ya Allah, aku tidak mampu menjaganya, maka jagalah ia untuk-Mu. Aku tidak sanggup menuntunnya, maka tuntunlah ia menuju cahaya-Mu.”
Begitulah cinta para pecinta sejati. Cinta yang tidak membelenggu, tetapi membebaskan dalam arah yang benar. Cinta yang tidak memenjarakan hati, tetapi menundukkannya di hadapan Sang Pemilik Hati.
Mereka tahu, bahwa segala sesuatu yang mereka cintai di dunia ini hanyalah bayangan dari cinta yang hakiki — cinta kepada Allah.
Dan ketika seseorang mencintai dengan doa, ia sesungguhnya sedang menapaki jalan para arifin — jiwa-jiwa yang belajar mencintai tanpa ingin memiliki, memberi tanpa berharap kembali, menjaga tanpa menggenggam, dan berpisah tanpa kehilangan.
Sebab bagi mereka, segala cinta yang tidak bersandar kepada Allah adalah bayangan yang akan sirna oleh waktu. Namun cinta yang berakar pada doa akan tumbuh kekal di taman-taman keabadian.
Maka, jika engkau pernah mencintai seseorang dengan tulus, dan kini ia jauh, hilang, atau bahkan melupakanmu, jangan sesali. Mungkin Allah hanya ingin mengajarkanmu bahwa cinta bukan tentang memiliki, tetapi tentang mendoakan.
Cinta yang sejati adalah ketika engkau menunduk dan berkata lirih, “Ya Allah, aku tak tahu ke mana takdir membawanya, tapi aku titipkan dia pada penjagaan-Mu. Sebab hanya Engkaulah yang tak pernah kehilangan.”
Dan saat itu, langit pun menjadi saksi: bahwa cinta yang lahir dari doa akan kembali kepada sumbernya — kepada Allah, Sang Cinta yang Abadi. Wallahu a’lam. Babarokallahu fiikum. (*)
