Penyesalan Selalu Datang Terlambat

 

Penyesalan Selalu Datang Terlambat

Oleh : Coach Kaffa

Penyesalan selalu datang terlambat. Ia tidak mengetuk pintu ketika kita masih punya kesempatan memilih, ia baru menyapa setelah pilihan sudah kita ambil, setelah jalan sudah kita telusuri, setelah kata sudah terucap, setelah sikap sudah terlontar.

Di awal, ia hadir dengan lirih, seperti bisikan samar di sudut hati. Kita pura-pura tak mendengar, kita alihkan dengan kesibukan, kita tutup dengan alasan. Namun semakin kita mengabaikan, semakin ia tumbuh menjadi gema yang tak bisa kita tolak.

Penyesalan bukan sekadar rasa tidak suka pada keadaan. Ia adalah luka yang lahir dari kesadaran: seandainya dulu aku lebih hati-hati, seandainya aku lebih sabar, seandainya aku berani menahan diri. Kata “seandainya” itulah yang menjerat, yang membuat dada terasa sesak, yang membuat malam panjang tak bertepi.

Ada penyesalan yang ringan, hanya sesaat, menguap bersama waktu. Tapi ada juga yang berat—mendekam, menghantui, menempel di ingatan, dan terus mengalir ke dalam doa. Penyesalan semacam ini bukan sekadar rasa kehilangan, melainkan pengakuan bahwa kita pernah menyia-nyiakan sesuatu yang tak akan kembali.

Namun, justru di situlah letak rahasia penyesalan: ia adalah Guru yang tak pernah kita minta, tetapi paling jujur mengajari kita. Ia menampar tanpa belas kasihan, tetapi sekaligus menunjukkan bahwa hidup masih memberi ruang untuk berubah.

Penyesalan tidak hadir untuk membuat kita hancur, melainkan untuk menyadarkan bahwa masih ada hari esok, masih ada kesempatan untuk tidak mengulangi kebodohan yang sama.

Puncaknya, kita menyadari: penyesalan bukan akhir. Ia hanyalah jembatan yang getir, yang harus dilalui untuk sampai pada pemahaman. Bahwa hidup bukan tentang menghapus masa lalu, sebab itu mustahil, melainkan tentang berdamai dengannya, lalu menenun langkah baru dengan lebih bijaksana.

Dan akhirnya, penyesalan mengajarkan kita satu hal yang paling dalam: setiap luka yang kita sesali hari ini adalah pengingat agar kita tidak lagi menyakiti diri kita sendiri di keesokan hari. Barokallahu fiikum. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *