Sunyi yang Membunuh

Sunyi yang Membunuh

Oleh : M.Ilmi Hatta

Dosen Fak.Psilkologi Unisba & Jurnalis Senior

Indivividu-individu yang bergerak di profesi kemanusiaan, seperti pekerja sosial, diplomat pelindung warga negara, atau relawan reaksi cepat bencana, dianggap sebagai individu-individu berdedikasi tinggi, dan mempunya nilai luhur. Akan tetapi banyak yang tidak tahu, dibalik semangat dan jiwa besar penolong, ada bahaya mengintai yang tersembunya padai mereka, resiko Kesehatan Mental yang serius, yang disebut High Functioning Depression (HFD) dan Silent Suicidal Ideation (SDI).

HFD merupakan depresi ringan hingga sedang, indivdu yang mengalami HFD, bisa tetap produktif dan terlihat ‘normal’, akan tetap dalam dirinya, ia mengalami kelehan emosional, kehilangan makna, dan merasa diri kosong. Umumnya yang terkena HFD, menyembunykan gejala yang mereka alami, karena takut stigma, takut membebani orang lain, dan bisa saja ingin terus terlihat tampil kuat, meskipun ia merasa menanggung beban yang berat.

Dilansir dari  Jurnal National Library of Medicine,  dalam penelitian yang dilakukan di 52 negara terhadap 232 pekerja kemanusiaan, terutama yang bekerja dalam kondisi konflik, bencana alam, atau krisis kompleks, memiliki prevalensi tinggi terhadap stres psikologis, burnout, dan depresi. Ditemukan 12,9% dari pekerja mengalami posttraumatic stress disorder (PTSD), dan 8,6% mengalami complex posttraumatic stress disorder (CPTSD), dengan risiko ideasi bunuh diri yang meningkat secara signifikan pada staf internasional.

Burnout merupakan suatu kondisi kelelahan emosional, fisik, dan mental yang sifatnya kronis, timbul karena stres yang tidak terselesaikan dan berlangsung terus-menerus, terutama di lingkungan kerja. Beban kerja yang tinggi, paparan berulang terhadap trauma, adanya konflik idealisme dan moral, tetapi faktanya kenyataan seringkali merusak ketahanan psikologis. Dari hasil penelitian, pekerja kemanusiaan mengalami benturan antara idealisme mereka dengan birokrasi yang kaku atau kondisi yang tak bisa diubah. Akibatnya, muncul perasaan frustasi dan keyakinan bahwa usaha keras mereka tidak efektif.

Dari beberpa penelitian, burnout berhubungan dengan ideasi bunuh diri, yang ditemukan pada beberapa profesi intensitas tinggi. Profesi di Kesehatan, Pendidikan dan kemanusiaan, banyak individu yang selau tampil baik-baik saja, tetapi sebenarnya disembunyikan keinginan untuk mengakhiri hidup..

“Tersenyum sambil tenggelam” sebutan yang sering disematkan pada individu yang mengalami HFD- suicidal ideation. Individu dengan kombinasi tersebut, terlihat normal, tetap bekerja keras, tapi perasaan telah kehilangan harapan. Ciri lainya, merasa kosong meski tetap produktif, menyembunyikan stress dari orang terdekat, ada ide kematian yang diam-diam, dan tidak mencari bantuan meskipun sadar akan kondisi mental.

Pada bulan lalu publik dikagetkan dengan kejadian diplomat  muda. Arya Daru Pangayunan, ditemukan meninggal di kamar kostnya, dengan kepala terlilit lakban, kamar terkunci dari dalam. Arya, adalah pejabat Direktorat Perlindungan WNI Kementrian Luar Negri. Hasil penyelidikan Polda Metro Jaya menyimpulkan kematian Arya tidak ditemukan ada keterlibatan pihak lain atas kematian Arya. Dari penjelasan kepada press yang disampaikan Direskrimum Polda Metro Jaya, publik bisa mengambil kesimpulan bermacam-macam, satu diantaranya bisa menyimpulkan kematiannya akibat bunuh diri.

Bila benar Arya Bunuh Diri, kasus ini menyentak kesadaran kita tentang betapa rentannya pekerja kemanusiaan terhadap gangguan kesehatan mental. Lebih dari sekadar kelelahan biasa, para profesional ini menghadapi apa yang oleh psikolog disebut sebagai High-functioning depression (HFD), yakni depresi yang terselubung di balik produktivitas dan kinerja prima.

Sudah saatnya kita berhenti menganggap masalah kesehatan mental sebagai persoalan individu semata. Perlu perubahan budaya kerja di institusi-institusi kemanusiaan.

Pertama, perlunya skrining mental rutin. Ada beberapa alat ukur skala psikologi yang menditeksi ideasi bunuh diri, seharusnya digunakan bukan hanya ketika krisis terjadi, tetapi sebagai bagian dari evaluasi kerja berkala.

Kedua, perlunya perluasan dan pendalaman pemahaman Kesehatan mental di tempat kerja. Ada upaya edukasi, tapi hanya merupakan seminar tahunan. Hal yang sebenarnya perlu dilakukan adalah budaya empati yang nyata, adanya dialog terbuka dan pendampingan emosional rutin.

Selanjutnya, karyawan baru bergabung yang relatif muda perlu perhatian khusus. Banyak ditemukan kasus bunuh diri terjadi di awal masa bekerja, karena depresi berat, saat mereka belum berani mengungkapkan tekanan mental.

Terakhir, layanan konseling pribadi dan profesional harus mudah diakses, tanpa terhambat birokrasi ataupun beban stigma sosial.

Ketangguhan adalah nilai penting, tetapi bukan satu-satunya. Kita harus belajar untuk juga menghargai kerentanan. Menangis bukan kelemahan, meminta bantuan bukan kegagalan. Justru dalam pengakuan bahwa kita tak selalu kuat, kita bisa benar-benar sehat.

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Melainkan sebuah ajakan untuk memanusiakan kembali mereka yang bekerja demi kemanusiaan. Kita sering memuji pahlawan kemanusiaan karena dedikasinya. Tapi, jangan sampai kita hanya mengenang mereka saat mereka telah tiada. Kita bisa memulainya dengan bertanya lebih sering: “Apa kamu baik-baik saja?”dan bersedia mendengar jika jawabannya adalah “tidak.”

Kisah Arya Daru bukan sekadar tragedi pribadi, tapi cerminan perlunya pergeseran budaya organisasi dalam memandang kesehatan mental. Kita butuh sistem yang bukan hanya menuntut kerja keras, tapi juga menyediakan ruang aman untuk menyuarakan letihnya.

Burnout adalah krisis kesehatan mental serius yang memerlukan pendekatan holistic baik dari sistem maupun individu. Penanganan tepat waktu dapat memutus jalur menuju risiko bunuh diri. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *