Dilematika Media Online di Masa Pandemi

Opini, flashlombok.com – Kegiatan Jurnalisme saat ini bukan saja dilakukan melalui media cetak, namun dengan media elektronik, media online. Beberapa tahun terakhir, media online hadir memberi warna baru dalam dunia jurnalistik. Hal ini didukung dengan aspek teknologi yang makin menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia dimana kecepatan menjadi kebutuhan, termasuk dalam hal akses informasi melalui internet. Kondisi tersebut ditunjukkan dengan penggunaan gawai yang melekat pada masyarakat saat ini. Peminat gadget di Indonesia bertumbuh sangat pesat ditandai dengan berita yang dikemukakan media bahwa Indonesia termasuk dalam 10 negara pengguna gadget di dunia. Kehadiran internet dalam sistem informasi di masyarakat memunculkan ketergantungan terhadapnya menjadi suatu realitas. Perkembangan pesat dalam dunia sistem komunikasi kita tentunya akan mengubah pola komunikasi yang terjadi di masyarakat selama ini.

Media online ini mempunyai berbagai macam kelebihan dibandingkan dengan media massa atau media cetak. Berbagai kelebihan media online antara lain: dapat dibaca kapan saja dan dimana saja, dapat dibaca berulang kali sebanyak yang diinginkan oleh pembaca, media online sangat praktis dan selalu update, serta dari segi waktu setiap informasi lebih cepat diperoleh dan dikonsumsi dan dari segi hargapun relatif sangat murah. Kecepatan dan kemudahan dalam menyampaikan informasi merupakan salah satu keunggulannya. Keberhasilan sebuah media daring (online) dapat dilihat dari kecepatannya dalam menyajikan berita. Semakin cepat berita itu naik, maka semakin banyak pula pembaca portal tersebut. Berbagai keuntungan kemudian didapatkan oleh sang pemilik media, seperti pemasukan iklan dan branding untuk media itu sendiri.

Disisi lain kehadiran media online juga memunculkan kelemahan yang justru menimbulkan kontroversi dalam penulisannya. Jurnalistik online sering menjadi sorotan belakangan ini karena sering mengesampingkan prinsip-prinsip jurnalisme seperti mengesampingkan akurasi berita dengan alasan kecepatan berita. Seiring pesatnya perkembangan media online tanpa kendali, jurnalisme online selalu menjadi sorotan karena sering kali dianggap tidak mengedepankan objektifitas (akurasi, fairliness, kelengkapan dan imparsialitas) berita hanya untuk mengejar keinstanan.

Bagaimana pandemi memang membuat fisik dan mental kita ambruk. Informasi yang mengerikan tentang Covid-19 membuat mental kita lumpuh. Kita menghadapi tantangan yang belum pernah dirasakan oleh manusia sebelum kita: infodemik. Infodemik merupakan wabah informasi yang membanjiri lingkungan kita, baik luring maupun daring. Media online, media sosial, aplikasi pesan instan, hingga percakapan di tempat kerja dan warung kopi, semuanya membahas isu yang sama. Semakin besar informasi menyebar, semakin kita tidak mampu menyaring informasi tersebut.

Informasi yang Ambigu

Derasnya arus informasi Covid-19 membuat banyak orang menyerukan stop membaca berita. Alasannya, berita Covid-19 membuat hidup tidak tenang dan selalu merasa gelisah. Stop membaca berita memang seolah-olah mampu menyelamatkan mental khalayak umum. Namun sesungguhnya, ada yang berbahaya dari kampanye meninggalkan berita Covid-19. Kita diajak untuk memanipulasi pikiran bahwa tidak ada apa-apa di luar sana. Kita menutup diri dari seluruh kabar buruk padahal kenyataan itu ada. Hal ini dapat membuat kita buta kenyataan, lalu abai terhadap protokol kesehatan.

Informasi yang ada di media massa memang tidak sepenuhnya benar, tetapi tidak membaca berita bukanlah pilihan yang bijak. Situasi apapun yang kita hadapi, media-media kredibel merupakan rujukan informasi yang paling bisa dipercaya. Kita bisa menghitung beberapa sumber informasi selain media massa, namun tingkat kepercayaan informasinya tentu akan sulit mengimbangi media. Jika jurnal ilmiah kita masukkan sebagai sumber informasi, misalnya, tentu akurat. Tetapi kemampuan jurnal ilmiah untuk update informasi dengan cepat masih kalah jauh dibanding media.

Informasi di media sosial cenderung bebas, tanpa filter. Namun sayangnya, berbagai sumber statistik menyebutkan bahwa pengguna media sosial di Indonesia terus membesar. Bahkan awal tahun 2021 ini, lebih dari 60% penduduk Indonesia menjadi pengguna media sosial. Ini sebuah tantangan yang luar biasa bagi seluruh komponen masyarakat.

Cerdas Memilah Informasi

Membangun dan membudayakan masyarakat yang terliterasi tidak dapat dijalankan oleh satu komponen saja. Seluruh warga negara harus berpartisipasi aktif mencerdaskan dirinya sendiri. Dalam buku Digital Culture yang diterbitkan Kominfo RI, ada beberapa kecakapan yang sekarang harus dimiliki warga digital, pertama cakap paham yaitu kemampuan masyarakat untuk memahami setiap informasi yang ada di dunia digital, kedua cakap produksi yaitu masyarakat harus mampu membuat informasi di media digital yang benar dan aman, ketiga cakap distribusi, yaitu kemampuan masyarakat menyebarkan informasi yang sudah terverifikasi dan dapat dipercaya.

Keempat, cakap partisipasi, yaitu masyarakat harus mampu berpartisipasi menjaga konten positif di media digital, dan kelima cakap kolaborasi, masyarakat pada akhirnya dapat bekerja sama untuk menciptakan suatu ruang yang aman dan nyaman di media digital. Kelima kecakapan ini harus dimiliki oleh setiap orang yang mampu membuat konten dan menyebarkannya di media digital. Setiap pengguna media sosial misalnya, harus proaktif untuk menyuarakan kecakapan tersebut sehingga dia bisa mengajak, mengingatkan, hingga meluruskan jika ada konten negatif yang muncul di beranda media sosialnya.Kecakapan ini tidak akan mudah disebarkan kepada seluruh pengguna platform digital. Perlu keseriusan dari masyarakat dan perlu dukungan dari pemerintah untuk menggerakkan seluruh elemen agar memiliki kecakapan yang serupa. Sekali lagi, informasi yang ada di media massa, media sosial, maupun aplikasi chatting tidak untuk ditakuti. Mari kita baca dan telaah seluruh kecakapan Komunikasi di ruang digital. Dengan demikian, terjagalah mental kita dari kepanikan akibat berita Covid-19.

Oleh Novita Maulida

Dosen Jurnalistik Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Mataram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *