Kasus DBD Lombok Meningkat, Jumantik Diperketat

Zainul Arifin, Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi NTB Saat Menerangkan Terkait DBD dan Jumantik, Senin (16/11/2020).

Mataram, flashlombok.com – Juru Pemantau Jentik (Jumantik) Nusa Tenggara Barat kian dikerahkan untuk memerangi penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti. Selain Covid-19, kasus DBD (Demam Berdarah) tidak bisa dipandang sebelah mata. Hingga kini kasus DBD masih mengalami kenaikan di beberapa kabupaten/kota di Nusa Tenggara Barat, Senin (16/11/2020).

Sejak meningkatnya kasus Demam Berdarah di Nusa Tenggara Barat, Jumantik terus dikerahkan untuk menangani penyakit tersebut. Jumantik hanya dikerahkan saat kasus DBD sudah tercatat tinggi di suatu daerah. Saat ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan satu rumah satu Jumantik di setiap daerah yang memiliki kasus DBD terbilang tinggi. Satu rumah satu Jumantik artinya salah satu anggota keluarga menjadi Jumantik. Sistemnya yaitu setiap Jumantik tersebut melaporkan perkembangan Jentik di lingkungannya kepada koordinator pada setiap RT/RW.

Jumantik merupakan anggota masyarakat yang secara sukarela memantau keberadaan dan perkembangan jentik nyamuk Aedes Aegypti di lingkungan tempat tinggalnya. Mereka memiliki tanggung jawab untuk mendorong masyarakat melakukan pemberantasan sarang nyamuk secara rutin. Jumantik sendiri merupakan salah satu bentuk gerakan atau partisipasi aktif dari masyarakat dalam menanggulangi penyakit DBD, mengingat DBD masih menjalar dan meningkat di beberapa kabupaten/ kota.

“Kasus tertinggi DBD sekarang berada di Kabupaten Lombok Barat per akhir Oktober 2020,” terang Zainul Arifin, selaku Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi NTB.

Zainul Arifin juga menjelaskan bahwa kasus DBD di Lombok terus mengalami fluktuasi. Pada akhir September tercatat kasus DBD tertinggi berada di Kota Mataram. Namun, pada akhir bulan Oktober 2020 mengalami fluktuasi dan kasus tertinggi berada di Kabupaten Lombok barat.

“Jika pada akhir September, kasus tertinggi berada di Kota Mataram. Kemudian mengalami fluktuasi, sehingga sekarang kasus tertinggi berada di Kabupaten Lombok Barat,” jelas Zainul.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *