LSF Indonesia Gelar Sosialisasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri di Lombok

Mataram, flashlombok.com – Lembaga Sensor Film Republik Indonesia (LSF) melakukan edukasi kepada masyarakat di Nusa Tenggara Barat, dalam menonton sebuah hasil seni seperti film misalnya, agar memiliki daya sensor mandiri, untuk meminimalisir dampak negativ dari sebuah tayangan.
Melalui program Sosialisasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri, LSF Indonesia menggelar kegiatan sosialiasi di Mataram Lombok, yang dihadiri oleh sejumlah dinas instansi terkait dan pelaku seni di daerah ini, dengan meghadirkan nara sumber dari LSF Indonesia termasuk pegiat literasi dari NTB.
Sosialisasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandir, digelar di Hotel Aston Mataram, Selasa (30/7/2024) dan dibuka langsung oleh Dr Ahmad Yani Basuki, selaku Ketua Komisi II LSF Indonesia.
LSF sebagai Lembaga Negara Independen memiliki tugas melakukan penyensoran film dan iklan film, sebelum diedarkan atau dipertunjukkan kepada khalayak umum.
Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009, tentang Perfilman, mengamanatkan LSF untuk memasyarakatkan penggolongan usia penonton film dan kriteria sensor film.
Selanjutnya membantu masyarakat agar dapat memilih dan menikmati pertunjukan film yang bermutu serta memahami pengaruh film dan iklan film.
Termasuk bertugas mensosialisasikan secara intensif pedoman dan kriteria sensor kepada pembuat dan pemilik film agar dapat menghasilkan film yang bermutu.
Dalam Sosialiasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri ini, dihadirkan dua nara sumber, pertama Fathul Rakhman selaku pegiat literasi asal NTB, yang membahas terkait dampak tayangan. Sementara nara sumber kedua Joseph Samuel Krishna AA, SH, selaku Ketua Subkomisi Apresiasi dan Publikasi LSF RI menyampaikan materi pengenalan tentang LSF dan pentingnya penyengsoran film dan iklan film.
Diskusi yang berlangsung lebih dari dua jam tersebut, dipandu langsung oleh Andi Muslim, S.Ds,M.Si, selaku moderator, dan tampak para peserta sangat antusias mengikuti kegiatan ini, terbukti dengan banyaknya pertanyaan yang muncul dari para peserta.

Ketua Subkomisi Apresiasi dan Publikasi LSF RI, Joseph Samuel Krishna AA, SH, seusai acara sosialisasi, kepada media ini menjelaskan, hari ini LSF mengadakan literasi budaya sensor mandiri di Lombok, dimana LSF sangat konsen sekali dengan kegiatan semacam ini agar bisa memperlengkapi masyarakat dan memiliki daya tangkal dalam menonton sebuah tayangan.
‘’Yang pasti LSF itu hadir di hulu dan di hilir. Kalau di hulunya ditujukan kepada para movie maker, penggiat perfilman. Dimana kami memperlengkapi mereka, meliterasi mereka, tentang bagaimana membuat film yang baik dan benar, sesuai undang-undang perfilman yang ada,’’ jelasnya.
Demikian juga di hilirnya, masyarakat diedukasi supaya masyarakat ini bisa memilah dan memilih tontonan dengan baik dan benar.
Selama ini yang menjadi masalah adalah bukan masalah filmnya, akan tetapi ketika film ditonton tidak sesuai dengan klasifikasi usianya. ‘’Misalnya untuk kalangan umur 17 tahun, jangan ditonton sama anak-anak, tidak akan sesuai dan tidak akan relevan,’’ katanya memberi contoh.
‘’Sosialisasi hari ini, kita punya sasaran banyak dan beragam. Pertama adalah tokoh masyarakat, tokoh agama, kemudian juga dari sekolah dan para dosen,’’ sebutnya.
Dipilihnya guru dan dosen sebagai target sosialisasi, karena mereka yang ada di ujung tombak. Mereka yang ketemu dengan siswa yang ketemu dengan mahasiswa, kemudian yang ketemu juga dengan masyarakat.
‘’Jadi kami memperkaya mereka itu semua dengan harapan untuk ditularkan kepada murid, mahasiswa atau tokoh agama tokoh masyarakat, agar sampai ke lapisan masyarakat paling bawah juga,’’ ujarnya.
Yang pasti lanjut Yosef, LSF melakukan sosialisasi semacam ini di seluruh provinsi di Indonesia. Jadi sekarang ini dilakukan di NTB, berikutnya akan berpindah ke porvinsi lain untuk melakukan kegiatan sosialisasi ini juga. (r01/mtr30).
