Kuliah Umum Di Kampus Unram, Kepala BPOM Taruna Ikrar Ingatkan Bangun Kepemimpinan Berbasis Neurosains

Mataram, flashlombok.com – Kepala BPOM Prof.dr. Taruna Ikrar memberikan kuliah umum di kampus Universitas Mataram. Kuliah umum yang berlangsung hampir satu jam tersebut, mengusung thema membangun kepemimpinan berbasis neurosains, untuk menghadapi tantangan nasional dan global.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama, dan Sistem Informasi, Dr. Sitti Latifah, S.Hut., M.Sc.Forest. Trop, sebelum dimulainya kuliah umum menyampaikan aspresiasi kepada BPOM yang menjadikan Universitas Mataram salah satu lokasi kegiatan kuliah umum, sehingga sivitas akademika secara langsung dapat berinteraksi dengan Badan Pom
‘’Kegiatan semacam ini penting, karena memberikan perspektif, bahwa proses pendidikan dan penelitian perlu semakin terkoneksi dengan kebutuhan masyarakat, dunia usaha, industry dan pemerintah,’’ katanya di dihadapan para peserta kuliah umum itu.
Ia menambahkan Universitas Mataram menyambut baik sosialisasi regulasi Obat Bahan Alam, Obat Kuasi, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik kepada mahasiswa. Pengetahuan tersebut memperkaya pembelajaran yang diperoleh di ruang kuliah dan laboratorium dengan perspektif praktis mengenai standar dan regulasi yang akan mereka hadapi ketika memasuki dunia penelitian, profesi, maupun kewirausahaan.
‘’Kami berharap interaksi langsung dengan BPOM dapat membantu dosen dan peneliti melihat lebih jauh perjalanan suatu hasil penelitian setelah keluar dari laboratorium,’’ tandasnya.
Ditegaskannya kembali, bahwa Universitas Mataram siap menjadi mitra pemerintah dan BPOM dalam membangun ekosistem inovasi di Nusa Tenggara Barat. ‘’Perguruan tinggi memiliki sumber daya peneliti, mahasiswa, laboratorium, dan berbagai hasil penelitian, sedangkan pemerintah dan regulator memiliki perspektif kebijakan serta kebutuhan masyarakat,’’ tandasnya.

Asisten satu Setda Provinsi NTB Fathul Gani, yang mewakili gubernur NTB dalam Kuliah Umum tersebut menegaskan kehadiran Badan POM di daerah, bukan hanya penting dalam memastikan produk yang beredar aman dan bermutu, tapi juga memberikan pendampingan dan membuka akses bagi pelaku usaha, peneliti, serta generasi muda untuk memahami regulasi dan mengembangkan inovasi yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Dijelaskan, bahwa NTB memiliki potensi sumber daya alam, kekayaan hayati, pengetahuan lokal, serta sumber daya manusia yang dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah, termasuk Obat Bahan Alam dan Kosmetik.
Fathul Gani mengingatkan, pengembangan produk unggulan daerah tidak dapat dilakukan oleh satu pihak. Pemerintah daerah membutuhkan dukungan regulator, perguruan tinggi membutuhkan mitra industri, peneliti membutuhkan akses terhadap regulasi dan hilirisasi, sementara pelaku usaha membutuhkan inovasi, pendampingan, dan kepastian regulasi.
‘’Kolaborasi antara Pemerintah Provinsi NTB, Badan POM, Universitas Mataram dan perguruan tinggi lainnya, peneliti, mahasiswa, pelaku usaha, serta asosiasi perlu terus diperkuat,’’ tandasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D, dalam kuliah umumnya menjelaskan lima isu utama, Global Megatrend, Framework Transformasi Neuroleadership, Transformasi Menuju World Class University, Sinergi BPOM dan World Class University, dan Neuroleadership Untuk Transformasi Masa Depan.
Menurut Kepala BPOM, untuk menuju Indonesia 2045, Indonesia akan menghadapi 10 global megatrend yang saling memengaruhi dan perlu diantisipasi melalui kepemimpinan yang adaptif.
Pertama Demografi global akan mencapai sekitar 9,45 miliar jiwa pada 2045, disertai perlambatan pertumbuhan penduduk, peningkatan migrasi, urbanisasi, dan populasi lanjut usia. Kedua masalah urbanisasi dunia terus meningkat, dengan sekitar 65% penduduk tinggal di perkotaan dan sebagian besar pertumbuhan terjadi di emerging economies.
Ketiga terjadinnya perubahan geoekonomi semakin menguatkan peran negara berkembang, khususnya Asia, sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dunia. ‘’Perdagangan internasional akan semakin bergeser ke negara berkembang, dengan meningkatnya perdagangan intra-Asia serta arus investasi antarnegara berkembang,’’ katanya
Demikian juga terkiat keuangan internasional bergerak menuju sistem yang lebih multipolar, dengan meningkatnya kekuatan aset keuangan emerging economies dan peran ekonomi baru seperti Cina. Dimana kelas pendapatan menengah diperkirakan tumbuh sangat besar, terutama di Asia dan Amerika Latin, sehingga mengubah pola konsumsi, ekonomi, sosial, dan politik.
Bahkan persaingan sumber daya alam semakin kuat karena peningkatan kebutuhan global, sementara ketersediaan SDA semakin terbatas meskipun teknologi meningkatkan efisiensi. ‘’Perubahan iklim menjadi tantangan serius. Tanpa pengurangan emisi, suhu global diperkirakan meningkat sekitar 3–3,5°C pada akhir abad,’’ jelasnya seraya menambahkan kemajuan teknologi akan didominasi oleh digitalisasi, bioteknologi, kesehatan, energi terbarukan, wearable devices, otomatisasi, robotik, dan Artificial Intelligence.
Perubahan geopolitik ditandai oleh meningkatnya peran Cina, kerentanan kawasan Timur Tengah, serta munculnya kelompok dan kekuatan baru dalam tatanan global. ‘’ Tren ini menuntut kepemimpinan yang mampu membaca perubahan, mengelola risiko, memanfaatkan teknologi, dan mengambil keputusan secara adaptif,’’ tandasnya.
Transformasi membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya memahami sistem dan regulasi, tetapi juga memahami manusia yang menjalankannya. Di sinilah neuroleadership menjadi relevan, yaitu pendekatan kepemimpinan yang mengintegrasikan ilmu neurosains dengan praktik kepemimpinan berdasarkan pemahaman mengenai cara kerja otak dalam berpikir, mengelola emosi, berperilaku, dan mengambil keputusan.
Pemikiran mengenai neurosains dan kepemimpinan ini terus berkembang dan telah saya tuangkan dalam sejumlah literatur, mulai dari Ilmu Neurosains Modern, Gagasan Indonesia Modern Berbasis Neuroleadership dan yang terbaru Neuro Leadership dari Pusakom Menjadi Think Tank Badan POM.
Dalam implementasinya, neuroleadership dibangun melalui prinsip yang memiliki karakteristik self-regulation, mindfulness, empathy-based leadership, dan decision-based on logic.
Keempat karakteristik tersebut dapat diperkuat melalui neuroplastisitas, terutama perubahan dan penguatan koneksi sinaptik sebagai respons terhadap pengalaman dan latihan1,2. Neurogenesis pada otak dewasa terutama berkaitan dengan hippocampus serta proses pembelajaran dan memori3, sedangkan functional compensation menggambarkan kemampuan jaringan otak melakukan reorganisasi atau meningkatkan aktivitas untuk mempertahankan fungsi.
Prinsip tersebut mendukung terbentuknya pemimpin dengan growth mindset, kecerdasan emosional, pembelajaran berkelanjutan, serta kepemimpinan transformasional.
Karakteristik tersebut kemudian menjadi jembatan dari kepemimpinan menuju penguatan kapasitas organisasi. Pemimpin yang memahami cara manusia berpikir dan berperilaku akan lebih mampu meningkatkan kualitas pengambilan keputusan menjadi lebih cepat, tepat, dan berbasis bukti serta pengelolaan risiko proaktif. Selain itu juga penguatan dalam kolaborasi untuk membangun sinergi lintas fungsi dan merancang intervensi strategis yang tepat berbasis data.
Neuroleadership harus menghasilkan dampak nyata. Dalam konteks BPOM, pendekatan ini diarahkan untuk mendorong transformasi perilaku masyarakat, peningkatan kesehatan masyarakat, serta akselerasi produktivitas nasional.
Dengan demikian, neuroleadership bukan sekadar konsep kepemimpinan, tetapi menjadi fondasi transformasi tata kelola BPOM agar semakin adaptif, kolaboratif, berbasis bukti, dan berorientasi pada dampak bagi masyarakat serta pembangunan nasional. ‘’Neuroleadership sangat penting untuk membangun kepemimpinan yang adaptif, humanis, dan siap menghadapi tantangan global masa kini serta masa depan,’’ pungkasnya.
Sebelum digelarnya kuliah umum oleh Kepala BPOM RI, diawali dengan Sosialisasi Regulasi di bidang Obat Bahan Alam, Obat Kuasi, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik. Termasuk dilakukan juga Sosialisasi fitur BRIDGE, Bersinergi dalam Riset Inovatif berDaya saing Global dan Ekspansi Pasar.
Narasumber yang hadir diantaranya Ibu Dian Putri Anggraweni, S.Si., Apt., M.Farm. Direktur Registrasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik, Ibu Imelda Ester Riana P., ST., MKM. Dengan Moderator Drs. Tepy Usia, Apt., M.Phil., Ph.D. (mtr08/r01).
