Kritik Hermeneutika Pemahaman Agama Tan Malaka: Perspektif Islam

 

Kritik Hermeneutika Pemahaman Agama Tan Malaka: Perspektif Islam

Oleh: Aldo el-Haz Kaffa

Tan Malaka adalah salah satu tokoh paling penting dalam sejarah intelektual Indonesia. Ia bukan hanya pejuang politik, tetapi juga seorang pemikir yang berani menggugat segala bentuk kemapanan, termasuk dalam soal agama. Dalam banyak pembacaan, Tan Malaka tampil sebagai tokoh yang menempatkan rasio, pengalaman material, dan perjuangan sosial sebagai fondasi utama memahami realitas. Dari titik itu, agama pun dibaca secara kritis: bukan terutama sebagai wahyu yang menuntun manusia kepada Allah, melainkan sebagai konstruksi kesadaran yang harus diuji manfaat, rasionalitas, dan fungsinya dalam kehidupan sosial.

Di sinilah letak pentingnya kritik hermeneutika. Persoalannya bukan sekadar setuju atau tidak setuju kepada Tan Malaka, melainkan menelusuri bagaimana ia memahami agama, dari cakrawala berpikir apa ia menafsirkan agama, dan di mana batas-batas penafsirannya jika diuji dari perspektif Islam. Sebab dalam Islam, agama bukan sekadar fenomena sosial, melainkan wahyu; bukan hanya pengalaman sejarah, melainkan petunjuk ilahiah; bukan semata hasil pembacaan akal, melainkan juga kebenaran yang melampaui akal.

Dengan demikian, kritik terhadap pemahaman agama Tan Malaka perlu dilakukan secara adil: mengakui ketajaman kritik sosialnya, tetapi juga menunjukkan reduksi yang muncul ketika agama dipaksa tunduk hanya pada logika rasional-material.

Agama dalam Horizon Rasionalisme Tan Malaka

Tan Malaka membaca dunia dengan semangat pembebasan. Ia curiga terhadap segala hal yang membuat manusia tunduk secara pasif, termasuk bentuk keberagamaan yang menjadikan rakyat pasrah, takut berpikir, dan menerima penindasan atas nama takdir. Dalam posisi ini, kritiknya mengandung unsur yang patut diapresiasi.

Agama, bila dipraktikkan secara beku dan manipulatif, memang bisa berubah menjadi alat legitimasi kekuasaan. Ia dapat kehilangan daya etisnya dan justru memelihara ketidakadilan. Namun, masalah muncul ketika kritik terhadap praktik beragama bergeser menjadi pembacaan terhadap agama itu sendiri.

Tan Malaka cenderung menilai agama dengan ukuran rasio dan realitas material. Hal-hal yang tidak dapat sepenuhnya diverifikasi oleh akal empiris cenderung dipandang problematis. Agama lalu lebih banyak dibaca sebagai sistem ide, alat sosial, atau gejala historis daripada sebagai jalan penghambaan dan petunjuk wahyu.

Dalam kerangka hermeneutika, ini menunjukkan bahwa Tan Malaka datang kepada agama dengan pra-pemahaman tertentu. Ia tidak pernah menafsirkan dari ruang kosong. Ia membawa horizon rasionalisme, semangat materialisme historis, dan orientasi pembebasan sosial.

Akibatnya, agama sejak awal tidak didengar sebagai otoritas kebenaran, tetapi lebih sebagai objek kritik. Ini sah sebagai sikap intelektual, tetapi sekaligus menunjukkan batas penafsirannya: ia membaca agama dari luar tradisi iman, bukan dari dalam kesadaran tauhid.

Perspektif Islam: Agama Bukan Sekadar Objek Rasio

Dari perspektif Islam, agama tidak dapat direduksi hanya menjadi produk sejarah atau alat sosial. Islam memandang agama sebagai wahyu Allah yang diturunkan untuk membimbing manusia menuju kebenaran. Akal memang memiliki posisi yang mulia dalam Islam, tetapi akal bukan sumber kebenaran yang absolut. Akal adalah alat memahami, bukan hakim tertinggi atas seluruh realitas.

Di sinilah letak kritik utama terhadap hermeneutika Tan Malaka. Ia tampak menempatkan rasio sebagai otoritas final. Padahal dalam Islam, ada wilayah-wilayah kebenaran yang berada di atas jangkauan nalar manusia, bukan karena bertentangan dengan akal, tetapi karena melampaui akal. Konsep wahyu, iman kepada yang gaib, hari akhir, malaikat, dan takdir adalah contoh dimensi agama yang tidak dapat diukur hanya dengan logika materialistik.

Jika agama hanya diterima sejauh cocok dengan nalar empiris, maka manusia sebenarnya sedang menundukkan wahyu kepada dirinya sendiri. Dalam Islam, sikap seperti ini problematis, karena menggeser posisi manusia dari hamba yang menerima petunjuk menjadi hakim yang menyaring petunjuk sesuai ukuran akalnya. Padahal inti keberagamaan justru terletak pada kesediaan tunduk kepada kebenaran Allah, termasuk ketika akal belum mampu menjangkau seluruh hikmahnya.

Artinya, Islam tidak menolak akal, tetapi juga tidak menyembah akal. Akal dipakai untuk memahami ‘tanda-tanda’ Allah, bukan untuk membatasi kemungkinan kebenaran hanya pada apa yang dapat diverifikasi oleh manusia.

Reduksi Agama Menjadi Fungsi Sosial

Kritik hermeneutika berikutnya adalah kecenderungan membaca agama semata dari fungsinya dalam masyarakat. Dalam horizon Tan Malaka, agama tampak dinilai dari apakah ia membebaskan atau justru menghambat kesadaran rakyat. Standar ini penting dalam membaca dimensi sosial agama, tetapi tidak cukup untuk memahami agama secara utuh.

Islam tidak hanya hadir untuk menata masyarakat, tetapi juga untuk menata jiwa. Agama bukan cuma etika sosial, melainkan jalan penyucian diri. Ia bukan hanya sistem hukum, tetapi juga relasi cinta, takut, harap, dan penghambaan kepada Allah. Ketika agama direduksi menjadi instrumen perubahan sosial, maka hilanglah dimensi ruhani yang menjadi inti kehidupan beragama.

Seorang muslim sholat bukan hanya karena shalat berguna secara sosial, tetapi karena itu bentuk penghambaan. Seseorang berzikir bukan semata karena efek psikologisnya, tetapi karena itu jalan mengingat Allah. Seseorang menahan diri dari menghina bukan hanya demi harmoni sosial, tetapi karena ia sadar setiap manusia dimuliakan oleh Allah.

Tan Malaka kuat melihat bagaimana agama bisa diperalat. Tetapi dari perspektif Islam, itu belum cukup. Sebab agama tidak bisa dipahami hanya dari penyimpangan penggunaannya. Menyalahkan agama karena dipakai secara salah sama saja seperti menyalahkan ilmu karena digunakan untuk menipu. Yang harus dikritik adalah penyalahgunaannya, bukan hakikatnya.

Kesalahan Membaca Tradisi Agama sebagai Anti-Kemajuan

Salah satu kelemahan pembacaan rasionalistik terhadap agama adalah kecenderungan melihat agama tradisional sebagai lawan kemajuan. Dalam konteks tertentu, kritik ini mungkin benar, terutama bila agama memang dikemas dalam bentuk taklid buta dan anti-intelektual. Namun dari perspektif Islam, generalisasi semacam itu tidak adil.

Tradisi Islam justru memiliki sejarah intelektual yang sangat kaya. Para ulama, filosof, mutakallimun, fuqaha, dan sufi telah membangun peradaban ilmu yang besar. Islam tidak identik dengan kebekuan berpikir. Ia memiliki tradisi ijtihad, debat epistemologis, dan pengembangan ilmu pengetahuan yang panjang. Karena itu, ketika agama diposisikan sebagai hambatan berpikir, masalahnya mungkin bukan pada agama, tetapi pada cara agama diajarkan atau dipraktikkan.

Kritik ini penting karena Tan Malaka, dalam beberapa pembacaan, tampak lebih sering berhadapan dengan wajah agama yang membeku daripada dengan inti ajaran agama itu sendiri. Dengan kata lain, yang ia kritik sering kali adalah bentuk sosial agama yang telah mengalami degenerasi, bukan agama sebagai wahyu yang otentik. Dari sudut hermeneutika, ini berarti ada risiko generalisasi dari fenomena ke esensi.

Islam dan Keseimbangan antara Akal, Wahyu, dan Akhlak

Perspektif Islam menawarkan jalan yang lebih seimbang daripada dikotomi antara rasionalitas dan agama. Islam tidak mengajarkan manusia untuk mematikan nalar, tetapi juga tidak membiarkan nalar berjalan tanpa tuntunan wahyu. Hubungan keduanya bersifat integratif. Akal membantu manusia memahami wahyu, sementara wahyu membimbing akal agar tidak tersesat oleh kesombongannya sendiri.

Dalam titik ini, kritik terhadap Tan Malaka bukan berarti menolak pentingnya rasionalitas. Justru Islam menghargai daya kritis dan keberanian berpikir. Tetapi Islam juga menegaskan bahwa ada bahaya besar ketika manusia menjadikan akal sebagai pusat tunggal pengetahuan. Sebab akal manusia terbatas, dibentuk oleh pengalaman, kepentingan, dan horizon sejarah tertentu.

Tan Malaka benar ketika menolak agama yang membius kesadaran sosial. Tetapi dari perspektif Islam, agama sejati justru membangunkan kesadaran itu. Islam bukan agama pasrah dalam arti menyerah pada ketidakadilan. Islam mengajarkan amar ma’ruf nahi munkar, keadilan, penghormatan terhadap martabat manusia, dan tanggung jawab moral. Jadi, problemnya bukan pada agama, melainkan pada pemahaman agama yang kehilangan ruh pembebasnya.

Hermeneutika Islam: Memahami dari Dalam Iman

Kritik paling mendasar terhadap pemahaman agama Tan Malaka adalah bahwa ia membaca agama dari luar horizon iman. Ia mendekati agama sebagai pengamat, pengkritik, dan pemikir sosial, tetapi bukan sebagai subjek yang tunduk kepada wahyu. Dari sudut hermeneutika Islam, posisi ini melahirkan pembacaan yang tidak utuh.

Agama, dalam Islam, paling tepat dipahami bukan hanya dengan analisis intelektual, tetapi juga dengan keterlibatan eksistensial: iman, ibadah, akhlak, dan pengalaman ruhani. Ada makna-makna agama yang tidak akan terbuka hanya melalui kritik rasional, sebagaimana keindahan cinta tidak akan sepenuhnya dipahami hanya dengan teori biologis. Yang dibutuhkan bukan hanya observasi, tetapi partisipasi.

Ini tidak berarti kritik dilarang. Islam tidak alergi terhadap pertanyaan. Tetapi pertanyaan yang diajukan kepada agama harus disertai kerendahan hati epistemologis: bahwa tidak semua realitas dapat dikuasai oleh kategori berpikir manusia. Wahyu bukan musuh akal, tetapi cahaya yang menyempurnakan akal.

Penutup

Dari perspektif Islam, pemahaman agama Tan Malaka memiliki dua sisi. Di satu sisi, ia penting sebagai kritik terhadap keberagamaan yang beku, fatalistik, dan manipulatif. Ia mengingatkan bahwa agama tidak boleh dijadikan alat penindasan atau alasan untuk mematikan akal. Dalam hal ini, kegelisahan Tan Malaka tetap relevan.

Namun di sisi lain, hermeneutikanya mengandung keterbatasan serius. Ia terlalu bertumpu pada rasionalitas material dan terlalu curiga terhadap dimensi transenden agama. Akibatnya, agama direduksi menjadi gejala sosial dan kehilangan kedalaman wahyu, iman, dan spiritualitasnya. Dari perspektif Islam, ini adalah pembacaan yang tajam tetapi belum utuh; kritis tetapi belum adil terhadap hakikat agama.

Maka, yang perlu dilakukan hari ini bukan menolak Tan Malaka secara mentah, juga bukan mengagungkannya tanpa batas. Yang diperlukan adalah membaca kritiknya secara selektif dan dialogis. Kita bisa menerima keberaniannya menentang penyalahgunaan agama, sambil tetap menegaskan bahwa agama dalam Islam bukan sekadar produk sejarah, melainkan petunjuk ilahiah yang membimbing manusia secara utuh: akal, hati, dan tindakan.

Pada akhirnya, kritik hermeneutika terhadap Tan Malaka membawa kita pada pelajaran penting: agama memang harus terus dibaca secara kritis, tetapi kritik yang paling adil adalah kritik yang tidak memenjarakan agama hanya dalam ukuran akal manusia. Sebab Islam bukan sekadar sistem ide. Ia adalah cahaya petunjuk. Dan cahaya tidak bisa diukur hanya dengan logika benda; ia harus dialami sebagai penerang jalan hidup manusia.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *