Lengkapi yang Kurang, Kurangi yang Berlebihan

Lengkapi yang Kurang, Kurangi yang Berlebihan
Oleh: Coach Kaffa
Sempurna itu memang tidak ada — kecuali ketika kita belajar melihat dengan mata yang penuh syukur, menerima apa yang kita punya, menghargai setiap langkah yang pernah kita tempuh, dan merawat setiap karunia yang diam-diam Allah titipkan.
Di titik itu, sempurna bukan lagi soal tanpa cela, tetapi tentang hati yang lapang, pikiran yang jernih, serta jiwa yang rela berjalan dengan tenang meski hidup tak selalu sesuai rencana.
Sempurna itu memang tidak pernah ada— setidaknya tidak dalam ukuran manusia, tidak dalam kaca mata yang hanya melihat kurang dan celah. Namun ketika kita berhenti sejenak, menurunkan ambisi yang terlalu bising, lalu mulai menatap hidup dengan mata yang disiram rasa syukur, tiba-tiba segalanya berubah.
Apa yang dulu tampak tak cukup, pelan-pelan menjadi anugerah yang selama ini terlewatkan. Apa yang dulu terasa kosong, ternyata menyimpan makna yang hanya dapat dibaca oleh hati yang bersih dari keluh dan keluh kesah.
Di sanalah kita belajar bahwa kesempurnaan bukanlah hasil akhir, melainkan cara memandang— cara menerima diri, menerima keadaan, menerima takdir yang berjalan setahap demi setahap dengan hikmah yang sering kali baru kita mengerti setelah luka sembuh dan air mata berubah menjadi kekuatan.
Kesempurnaan bukan tentang hidup tanpa kekurangan, tetapi tentang jiwa yang tenang karena memahami bahwa setiap kurang ada maksudnya, setiap patah ada pelajarannya, dan setiap detik yang kita jalani adalah kesempatan untuk tumbuh lebih matang, lebih lembut, lebih manusia.
Ketika syukur menjadi lensa, maka kita berhenti bertanya “mengapa hidup tidak sempurna?” dan mulai berbisik dalam hati, “terima kasih karena hidup ini cukup untuk membuatku menjadi lebih baik.”
Pada akhirnya, hati yang bersyukur melahirkan pemahaman yang kokoh, gerak batin yang lembut namun kuat, yang menuntun tubuh menjalani hidup dengan langkah yang lebih terarah, lebih sabar, lebih damai, dan jauh lebih bermakna. (*)
—
